Tampilkan postingan dengan label Disfungsi Ereksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Disfungsi Ereksi. Tampilkan semua postingan

Supaya Tidak Impoten, Bakar 200 Kalori Per Hari!

SEKS adalah salah satu bentuk olahraga yang sangat baik bagi tubuh. Seks tidak hanya sekadar melampiaskan hasrat saja, tapi juga bisa membantu mengurangi stres. Pasalnya, kegiatan yang baik bagi jantung, ternyata juga baik bagi seks.

Dalam laporan penelitian yang dimuat di jurnal Urology, Dr Irwin Goldstein dari Boston University School of Medicine, AS, pria yang tiap hari membakar 200  kalori melalui olahraga, kemungkinan lebih kecil menderita impotensi (disfungsi ireksi) dibanding pria yang tidak aktif. “Itu berarti berjalan 3,2 kilometer tiap hari sudah mencukupi.

Selama sembilan tahun, Dr. Goldstein dan timnya memantau 600 pria yang tidak memiliki persoalan dengan impotensi. Periset menekankan perhatian mereka pada faktor gaya hidup yang diyakini berpengaruh pada impotensi, semisal merokok, banyak minum alkohol, minimnya aktivitas, dam obesitas.

Dari situ diketahui, pria yang aktif dan mulai aktif berolahraga saat penelitian dimulai, memperlihatkan risiko yang rendah terhadap impotensi. Demikian yang dikutip dari Seni Menikmati Seks karya Andreas Lee Tan.

Goldstein menganggap temuan itu penting. Salah satu implikasi tepenting adalah, pria dapat mengurangi risiko impotensi, bahkan bila pria tersebut sudah dalam usia pertengahan, asal dia mulai berolahraga.

Namun, implikasi serupa tidak akan diperoleh bagi mereka yang menunggu sampa pertengahan dulu untuk berhenti merokok, menormalkan berat badan, dan mengurangi minuman keras.
Menurut Goldstein, olahraga mencegah impotensi dengan cara yang sama sebagaimana olahraga mencegah penyakit jantung. Impotensi dan penyakit jantung terjadi karena aliran darah ke organ tubuh jelek, dan olahraga membantu melancarkan peredaran darah itu.
Dengan kata lain, tambah Goldstein, impotensi dapat merupakan tanda awal penyakit jantung arteri karena penis lebih sensitif terhadap buruknya aliran darah ketimbang jantung.
Dikatakannya, impotensi memengaruhi seperempat pria di AS berusia 65 dan tidak ada obat untuk menyembuhkannya. Dengan Viagra, penyakit itu mungkin dapat diatasi, tetapi mencegah seharusnya menjadi sasaran utama ketimbang mengobati.(okezone,Minggu, 11 April 2010)

Ada apa dengan Disfungsi Ereksi dan Ejakulasi Dini?

Disfungsi Ereksi...Menjadi masalah yang paling umum dikeluhkan oleh kaum Adam, Apa dan bagaimana kiat-kiat menghadapinya. Simak kumpulan artikel berikut ini.


Disfungsi Ereksi

1.            11 Cara Cegah Disfungsi Ereksi
2.            Anda Disfungsi Ereksi?
3.            Belum Penetrasi Kok Sudah Selesai?
4.            Belum Tegak Udah Loyo
9.            Empat Saran agar Selalu Ereksi
16.         Ereksi, Bagaimana Terjadi?
17.         Gangguan Ereksi Bisa Diatasi!
19.         Ginseng : Obat Segala Penyakit
21.         Impotensi Bisa Disembuhkan
25.         Ling Zhi : Raja Tonikum
27.         Loyo di Rumah, Greng di Luar
34.         Saat Nafsu Besar Tenaga Kurang
35.         Sering "Ngeseks" DE pun Lenyap
40.         Tanduk Rusa Jaga Stamina Pria
41.         Tanduk Rusa, Bikin Greng?

Ejakulasi dan Ejakulasi Dini Dini

1.            4 Teknik Penunda Ejakulasi
3.            Ejakulasi Bikin Pria Berumur Pendek?
4.            Ejakulasi Bikin Prostat Sehat
5.            Ejakulasi Dini Gara-gara Faktor Gen?
6.            Etika Ejakulasi
10.         Tunda Ejakulasi dengan Rabaan




Kenapa Ya Sulit Ereksi?

ADA sebagian pria yang terkadang sulit mengalami ereksi ketika akan berhubungan intim. Jika problem ini tidak terlalu sering menimpa Anda, sebaiknya tak perlu dicemaskan dulu. Akan tetapi, bila "kegagalan" itu dirasakan sudah mencapai  lebih dari 50 persen tanpa mempedulikan faktor usia, besar kemunginan Anda memang membutuhkan penanganan khusus.

Untuk mengetahui apakah Anda berisiko mengalami masalah disfungsi ereksi  (ED) berikut ada beberapa poin penting yang dapat menjadi acuan. Untuk memudahkannya, ikutilah kuis singkat di bawah ini :

 1. Apakah Anda kelebihan berat badan?
 2. Apakah Anda mengidap salah satu dari jenis masalah kesehatan di bawah ini?
 * Diabetes
 * Kolesterol
 * Depresi
 * Aterosklerosis (penebalan dinding pembuluh darah)
 * Penyakit Ginjal

 3. Apakah Anda :
* Merokok
* Minum  Alkohol
* Menggunakan obat terlarang atau narkoba

4. Seberapa sering Anda berolahraga ?
* Setiap hari
* Sekali atau dua kali seminggu
* Sekitar dua kali sebulan
* Saya tak pernah melakukannya

5. Seberapa sering Anda mengalami stress?
* Hampir sepanjang waktu
* Kadang-kadang
* Sangat jarang

Jawaban:
1. Jika Anda kelebihan berat badan, kegemukan atau obesitas, Anda memang cenderung berisiko lebih besar mengalami disfungsi ereksi.
2. Penyebab umum dari kasus disfungsi ereksi adalah penyakit syaraf, kondisi psikologis dan jenis penyakit yang mempengaruhi aliran darah dalam tubuh.  Pengunaan  beberapa obat resep atau obat-obat bebas juga dapat mempengaruhi timbulnya ED dengan cara merusak keseimbangan hormon pria, sistem syaraf dan sirkulasi darah .
3. Tembakau , alkohol dan narkoba semuanya dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke bagian penis yang pada akhirnya menyebabkan ED
4. Semakin rajin Anda melakukan olahraga rutin,  risiko Anda mengalami ED akan makin berkurang.
5. Stres dan kecemasan adalah penyebab kasus ED yag bersifat sementara. Jika problem kejiwaannya sudah normal, maka problem ED tentu akan lebih mudah disembuhkan.

Perlu ditanyakan kepada dokter Anda
* Apakah problem ereksi yang saya alami disebabkan oleh penyakit yang saya derita?
* Apakah obat-obatan yang digunakan selama ini bisa menjadi penyebab atau membuat kondisi disfungsi ereksi makin parah?
*Apakan stres atau masalah kejiwaan menjadi penyebab kesulitan ereksi yang sama alami?
*Jenis pengobatan apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi ED?

Fakta dan Mitos
* Salah satu informasi yang salah tentang disfungsi ereksi adalah anggapan bahwa ED adalah kondisi yang tidak dapat dihindarkan karena faktor usia. ED adalah kelainan atau kondisi yang tak normal pada pria di usia berapapun. Seseorang juga tidak bisa dikatakan normal jika mengalami ED hanya karena  usianya semakin tua .

*Mitos lainnya soal ED adalah mengenakan pakaian dalam ketat dapat menyebabkan impotensi. Meskipun kondisi fisik dan psikologis dapat menjadi timbulnya ED, pakaian dalam ketat tidak bisa dijadikan kambing hitam atas menurunnya kemampuan ereksi Anda. Namun  begitu, pakaian dalam ketat bisa manjadi faktor yang mempengaruhi kualitas sperma Anda.

* ED dapat diatasi dengan obat-obatan oral, terapi seks, suntikan penis dan teknik operasi seperti implan penis.

* Intercavernous injection therapy adalah sebuah teknik pengobatan dengan cara menyuntikan langsung  ke bagian penis untuk mengatasi ED.

* Intraurethral therapy adalah teknik pengobatan  suppositori dengan cara memasukkan obat ke dalam saluran kencing bawah (uretra) untuk mengatasi ED.

* Jika Anda mengalami ED, orang yang ahli menangani masalah ini adalah dokter spesialis urologi. Dokter ini dapat membantu mengatasi masalah-masalah sistem saluran urin pada pria maupun wanita dan problem organ seks pria

 Sumber :WebMD, Kompas,Kamis, 15 Mei 2008

Gangguan Ereksi Jangan Dibiarkan


Ada benang merah yang dapat ditarik dari surat di bawah ini, yakni komunikasi yang tidak baik antara suami dan istri, terutama komunikasi seksual. Bagaimana sebaiknya? Simak jawaban Prof Wimpie berikut ini.

"Saya berumur 61, istri 45 tahun. Saya mengalami gangguan seks sejak umur 56 tahun. Kalau mau berhubungan kadang tidak bisa ereksi. Kalaupun bisa, tidak bisa baik dan memuaskan. Istri jadi sering mengeluh. Dua tahun ini semakin parah. Saya semakin sulit ereksi walaupun keinginan besar.

Kalaupun bisa, baru mulai, sudah hilang lagi. Kelihatan istri sangat kecewa dan kadang marah. Saya jadi bingung. Saya menyadari istri saya jauh lebih muda, tapi bukankah seharusnya ia mengerti keadaan suami, bukan malah marah? Apalagi perempuan lebih mudah mengendalikan keinginan seksnya dibandingkan laki-laki sehingga tidak sampai menimbulkan masalah kalau tidak berhubungan seks. Apakah kalau berobat saya bisa ereksi lagi seperti dulu, dan istri bisa puas lagi?"
B.M., Solo

Pandangan keliru
Sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya harus meluruskan pendapat Anda. Pernyataan "Apalagi perempuan lebih mudah mengendalikan keinginan seksnya dibandingkan laki-laki sehingga tidak sampai menimbulkan masalah kalau tidak berhubungan seks" itu salah sama sekali.

Tidak selalu perempuan lebih mudah mengendalikan dorongan seksualnya. Tidak selalu kalau perempuan tidak melakukan hubungan seksual tidak menimbulkan masalah. Sebenarnya selama ini masyarakat mendapat informasi yang salah, seolah seksualitas pria dan perempuan itu tidak sama, bahkan berlawanan.

Seolah hanya pria yang berkepentingan dengan seks, perempuan tidak. Seolah hanya pria yang memerlukan kepuasan seksual, perempuan tidak. Baik pria maupun perempuan adalah makhluk seksual. Apa artinya? Keduanya sama-sama punya dorongan seksual, sama-sama ingin melakukan aktivitas seksual, dan sama-sama ingin merasakan kepuasan seksual. Keduanya juga sama-sama dapat mengalami gangguan fungsi seksual. Namun, manusia juga mampu mengontrol dorongan seksual.

Bisa diobati
Masalah Anda dan istri terjadi karena Anda mengalami disfungsi ereksi. lni mungkin terjadi sejak lima tahun lalu sesuai penjelasan Anda. Karena Anda biarkan, gangguan semakin buruk.

Kelalaian Anda ialah tidak segera mendapat pengobatan. Benar ada kesenjangan dalam usia, tetapi pada masa kini usia bukan masalah. Usia tidak lagi dapat dijadikan indikator fungsi organ tubuh. Dengan pengobatan yang benar sesuai prinsip Anti-Aging Medicine, usia fungsi organ tubuh dapat dibuat lebih muda dan sehat dibandingkan usia (kalender) kita.

Jadi, walau usia Anda 61 tahun, dengan pengobatan yang benar, fungsi organ tubuh dapat tetap baik, termasuk fungsi seksual Anda. Tentu Anda memerlukan konsultasi dan pemeriksaan yang benar.

Saya sarankan Anda segera berkonsultasi lebih lanjut dan mendapat pemeriksaan. Dari situ dapat diketahui dengan pasti adanya disfungsi ereksi atau gangguan lain dan apa penyebabnya sehingga pengobatan yang benar dapat ditentukan. Saya harap gangguan yang Anda alami dapat diatasi dengan baik sehingga kehidupan seksual dengan istri kembali seperti dulu.

Konsultasi dijawab oleh Prof.Dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And. (Kompas, Sabtu, 20/2/2010)

Masturbasi Bikin Disfungsi Ereksi?



T. Apakah sering masturbasi dapat menyebabkan disfungsi ereksi? Saya masturbasi setidaknya sekali atau dua kali dalam sehari. Biasanya, saya dapat bertahan melakukannya selama 3-5 menit. Kini, saya berejakulasi hanya dalam 20 detik. Saya takut itu akan mempengaruhi kehidupan seks saya di masa depan. Haruskah saya berhenti bermasturbasi?

J. Banyak penyebab terjadinya disfungsi ereksi, termasuk masalah pikiran, sistem sirkulasi dan sistem saraf. Kalau Anda dalam kondisi fit dan sehat, masturbasi 1-2 kali sehari tidak memberi pengaruh buruk, bahkan itu merupakan penyaluran stres yang baik.

Semakin sering masturbasi, semakin lama Anda bisa menahan ereksi, oleh karena itu diperlukan variasi dalam menstimulasi. Mungkin saja Anda perlu melakukan stimulasi baru, sehingga berejakulasi lebih cepat.

Jika Anda merasa terlalu sering masturbasi, cobalah alihkan perhatian dengan dengan berolahraga atau hobi lainnya. Sekali atau dua kali masturbasi seharusnya tidak mempengaruhi aktivitas seksual tapi perlu dilakukan penyesuaian. Cobalah dengar apa kata tubuh Anda dan ciptakan keseimbangan.(Kompas,Kamis, 10 Juli 2008)

Tak Pernah Lagi Ereksi Pagi, Ada Apa?


TANYA : Yang terhormat Prof. Wimpie Pangkahila dan Redaksi. Terimakasih karena telah menyediakan sarana konsultasi di website ini. Kekhawatiran yang selalu menghantui saya selama ini adalah organ seksual saya hampir tidak pernah ereksi ketika pada saat saya bangun dari tidur terutama di pagi hari.

Sementara sebagian besar pria pasti selalu mengalami ereksi. Apakah ini termasuk penyakit? Apa yang sebaiknya saya lakukan Prof?  Selain itu, organ seksual saya juga berukuran kecil, mohon sarannya Prof  untuk segala bantuannya diucapkan terimakasih.

Andre (25)

JAWAB :  Ereksi penis yang terjadi pada pagi hari sebenarnya adalah sisa ereksi spontan yang terjadi selama tidur malam. Artinya, ereksi spontan itu sebenarnya terjadi selama tidur malam, bukan pada pagi hari. Ereksi yang biasa dirasakan pada pagi hari adalah sisa ereksi pada malam hari itu.

Kalau Anda merasa tidak mengalami ereksi ketika bangun tidur pagi, bukan berarti Anda tidak mengalami ereksi spontan itu. Mungkin saja ereksi spontan telah terjadi selama Anda tidur malam. Tetapi sisa ereksinya tidak tampak lagi ketika Anda bangun tidur pada pagi hari.
  
Terjadinya ereksi spontan malam hari berkaitan erat dengan fungsi hormon testosteron. Pria yang mengalami kekurangan testosteron, jarang atau tidak lagi mengalami ereksi spontan. Tetapi kalau Anda tidak merasakan ereksi ketika bangun tidur pagi hari, bukan berarti Anda telah mengalami kekurangan testosteron.

Boleh jadi, seperti penjelasan di atas, sisa ereksi pada pagi tidak tampak lagi, padahal selama tidur malam ereksi tetap terjadi.  Karena itu, untuk membuktikan ada tidaknya ereksi spontan selama tidur malam, digunakan suatu alat bantu yang digunakan selama tidur malam.    

Mengenai organ seksual yang Anda anggap kecil, saya pikir anggapan Anda belum tentu benar. Banyak orang menganggap ukuran penisnya kecil, padahal sebenarnya normal. Kalau Anda benar ragu, silakan memeriksakan diri. Dengan pemeriksaan yang benar, dapat diketahui apakah organ seksual Anda telah berkembang normal atau tidak.(Kompas,Kamis, 19/8/2010)

Tetap Ereksi Usai Ejakulasi, Tanda Buruk?

T. Biasanya setelah ejakulasi, penis saya akan kembali normal, tapi kadang masih tetap ereksi. Apa yang harus saya lakukan? Apakah ini pertanda buruk?

J. Tidak aneh bagi penis untuk tetap ereksi setelah ejakulasi. Anda hanya perlu santai hingga penis “tenang” dengan sendirinya. Anda bahkan juga bisa ejakulasi lagi di lain waktu atau kembali melakukan aktivitas seksual jika masih bisa bertahan.(Kompas,Kamis, 29/5/2008)

Sulit Ejakulasi Gara-gara Mr.P Kurang Sensitif?

T. Perlu waktu agak lama bagi saya untuk ejakuasi baik saat masturbasi ataupun dalam hubungan seks. Apakah ini karena penis saya kurang sensitif?

J. Hal ini tidaklah aneh. Malah Anda seharusnya merasa beruntung karena 25-40 persen pria harus berurusan dengan masalah ejakulasi dini. Sensitifitas penis akan berubah seiring bertambahnya usia. Saya sarankan untuk menikmati masa-masa sekarang ini. Bahkan ada pula pria yang mengalami cacat ejakulasi atau tidak mampu mencapai klimaks sama sekali.(Kompas,Jumat, 19/9/2008)

Untuk Cinta yang Lebih Baik...

Dr Dieten Neuser, peneliti dari Bayer Schering Pharma, Jerman, produsen obat disfungsi ereksi verdenafil bernama Levitra, hanya terkekeh ketika ditanya mengapa semua peneliti di seluruh dunia sibuk berlomba-lomba membuat obat untuk ereksi. Mengapa tidak sebaliknya, membuat obat untuk mengurangi ereksi sehingga dunia menjadi lebih tenang.

"He-he-he. Orang lebih peduli pada kemampuan laki-laki. Lagi pula tidak ada pasarnya," ujar Neuser di Lisabon, Portugal, akhir November 2007.

Disfungsi ereksi ini kini telah menjadi perkara serius di dunia, juga di Tanah Air. Dalam sebuah rubrik seksologi asuhan Prof Dr Wimpie Pangkahila di tabloid Senior edisi 2-8 November 2007, seorang perempuan berusia 38 tahun di Semarang, Jawa Tengah, mengeluhkan suaminya yang berusia 39 tahun tidak bisa ereksi sejak empat bulan terakhir. Perempuan berinisial SN itu menulis, "Kalau saya bilang ingin hubungan seks, dia berusaha menghindar dengan berbagai alasan…".

Saat mencoba bertanya ke seorang ibu setengah baya di Semarang melalui SMS, misalnya, ia menjawab agak ketus, "Aku kok ditanyain demikian…Malah yang tak cari itu sing tegak berdiri, je…".

Perempuan modern kini lebih terbuka membicarakan kebutuhan akan ereksi pasangan seksualnya. Tidak hanya di ruang-ruang intim, mereka juga membicarakannya di ruang publik, di berbagai media massa, restoran, kantor, bahkan di ruang-ruang chatting. Keluhan disfungsi ereksi juga disampaikan para perempuan ke Klinik Meditama, salah satu klinik kesehatan laki-laki dan perempuan, di Jalan KH A Dahlan 9, tidak jauh dari kawasan Simpanglima, Semarang. Klinik tersebut setiap Sabtu secara khusus melayani konsultasi kesehatan seksual laki-laki dan perempuan, terutama disfungsi seksual. Disfungsi ereksi sendiri adalah varian dari disfungsi seksual, selain gangguan libido, ejakulasi dini, dan gangguan seksual lainnya.

Jumlah pasien baru di klinik tersebut rata-rata 3-4 pasien per bulan, umumnya seputar keluhan ereksi. Belum lagi yang secara rutin berkonsultasi. "Ibu-ibu yang datang ke sini menanyakan soal itu juga mulai banyak," tutur dr Rudi Yuwana PhD, urolog di klinik tersebut, Jumat (7/12). Kalau yang datang laki-laki, Rudi biasanya juga memanggil pasangan seksualnya untuk menyelidiki penyebab disfungsi ereksi tersebut. "Sebelum konsultasi biasanya saya sodori kuesioner," ujar Rudi.

Macam-macam keluhan di klinik tersebut sehingga menyebabkan disfungsi ereksi. Rudi Yuwana bercerita, pernah ada kasus yang ternyata sebabnya sepele saja. Seorang suami mengeluh tidak bisa ereksi bersama istrinya karena si istri selalu menolak berhubungan intim. Setelah istri tersebut juga ditanya, ternyata si istri tidak tahan dengan bau suaminya. "Ya, sarankan mandi dulu sebelum berhubungan," ujar Rudi sambil tertawa.

Faktor psikologis memang sering menyebabkan disfungsi ereksi. Namun, kata Rudi, sejak lima tahun sudah bergeser. Kalau dulu 80-90 persen disebabkan faktor psikologis seperti kasus di atas, sekarang ini 80-90 persen disebabkan oleh kelainan organik.

Belum diketahui berapa sebetulnya angka kejadian atau prevalensi disfungsi ereksi di Indonesia. Namun, sejumlah hasil riset bisa sedikit membantu. Hasil riset urolog Korea Ill Young Seo dan kawan-kawan yang dipaparkan dalam Kongres Masyarakat Kesehatan Seksual Asia Pasifik Oktober 2007 menyebutkan bahwa dari 5.280 laki-laki dengan usia rata-rata 53,5 tahun yang mengalami disfungsi ereksi kebanyakan disebabkan kelainan organik atau campuran antara organik dan psikologis.

Gangguan ereksi

Di seluruh dunia, seperti dikemukakan Sekretaris Jenderal Masyarakat Kesehatan Seksual Eropa Dr John Dean, 16 persen dari laki-laki berusia 20-75 tahun mengalami gangguan ereksi. Itu berarti, 152 juta laki-laki mengalami gangguan ereksi. "Diprediksi prevalensi itu meningkat menjadi 322 juta orang tahun 2025," ujar John Dean. Jadi, kira-kira 16 persen laki-laki usia 20-75 tahun di Indonesia pun juga mengalami disfungsi ereksi.

Menurut John Dean, disfungsi ereksi ini didefinisikan sebagai ketidakmampuan yang konsisten dan berulang-ulang dari laki-laki untuk mencapai dan/atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk kinerja seksualnya. Kondisi ini umum terjadi pada laki-laki di atas usia 40 tahun dan kebanyakan tidak ditangani. Disfungsi ereksi ini juga meliputi kemampuan yang tidak konsisten untuk mencapai ereksi, kecenderungan untuk mempertahankan hanya ereksi yang singkat, atau ketidakmampuan total untuk mencapai ereksi.

Berbagai studi juga menunjukkan, disfungsi ereksi ini tidak hanya berpengaruh pada kualitas hidup laki-laki, tetapi juga kualitas hidup dan fungsi seksual pasangan perempuannya. Kepuasan seksual, yang adalah komponen kunci dari fungsi seksual, secara signifikan berkaitan dengan kepuasan perkawinan. Kepuasan dalam perkawinan itu pada gilirannya akan memiliki konsekuensi pada keseluruhan kesehatan dan kualitas hidup.

"Kemampuan ereksi ini penting untuk mewujudkan cinta yang lebih baik, for better love, karena terjadi kontak fisik yang intens," ujar Rudi Yuwana.

Dewasa ini sudah dibuat cara untuk mengukur disfungsi ereksi dari perspektif perempuan. Metode tersebut dikembangkan Prof Eusebio Rubio-Aurioles, Presiden Asosiasi Kesehatan Seksual Dunia, John Dean, dan kawan-kawan. Metodenya disebut Fame, akronim dari The Female Assessment of Male Erectile Dysfunction Detection Scale atau Skala Deteksi Penilaian Perempuan Atas Disfungsi Ereksi Laki-laki.

"Dari hasil riset menunjukkan bahwa sensitivitas Fame lebih tinggi daripada metode sebelumnya, yakni SHIM (Sexual Health Inventory for Men)," ujar Prof Eusebio.

Riset tersebut mengonfirmasi bahwa deteksi disfungsi seksual oleh pasangan seksual mereka sangat dimungkinkandengan catatan hal ini hanya berlaku untuk pasangan heteroseksual, bukan homoseksual. (Kompas,Minggu, 13 Januari 2008 )

Ternyata, Banyak Pria DE Tak Tahu Penyebab Sakitnya


Hampir 50 persen pasien dengan disfungsi ereksi (DE) tidak menyadari adanya hubungan antara disfungsi ereksi dengan faktor yang menyebabkannya.

Demikian hasil survei kualitatif yang baru-baru ini dilakukan Bayer Schering Pharma baru-baru untuk memperlihatkan sejauh mana pemahaman para pria di dunia mengenai disfungsi ereksi dan bagaimana para pria tersebut mencari pengobatan.

Prof Professor Siegfried Meryn, dalam paparannya mengenai survei yang dilakukan lembaga survei pasar Taylor Nelson Sofres (TNS), dalam siaran pers yang dilansir Bayer Schering Pharma, Selasa (16/12), di Jakarta, para penderita DE sangat menginginkan kembalinya kesempurnaan dalam hubungan seksualnya.  

Yang paling mengejutkan adalah, ternyata sebanyak 70 persen dari pria menyebutkan dirinya akan bertindak lebih cepat apabila mereka telah mengetahui penyebab disfungsi ereksi sejak dini dan bagaimana disfungsi ereksi ini disebabkan juga oleh penyakit lain, ujarnya.  

Selain itu, sebanyak 80 persen dari pasien yang menderita disfungsi ereksi telah mengkonsultasikan kondisinya kepada dokter dan ahli sehingga disfungsi ereksi bukan lagi sesuatu yang tabu bagi para pria. Ketakutan bahwa penyakit lain dapat menyebabkan disfungsi ereksi merupakan alasan terpenting bagi p ara pasien untuk menemui dokter.

Hasil survei juga menunjukkan, para ahli urologi dapat memakai pendekatan menyeluruh untuk memperlihatkan hubungan antara disfungsi ereksi dan penyakit yang menyebabkannya dan menghimbau pasien agar mau untuk membicarakan kondisinya. "Yang lebih penting lagi, mencari pengobatan yang tepat bagi penyakit-penyakit yang menyebabkan disfungsi ereksi," kata Professor Siegfried Meryn, President of the International Society for Mens Health.

Pengobatan untuk mendapatkan kehidupan seksual yang normal kembali merupakan hal penting bagi kebanyakan penderita DE baik itu dengan penyakit-penyakit penyebabnya maupun tidak. Hasil survei menunjukan, pria mementingkan mencari pengobatan bagi disfungsi ereksi yang menjamin ereksi lebih cepat dan lama. Padahal keseluruhan kondisi fungsi tubuh memerangkan fungsi yang cukup signifikan bagi penderita disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi merupakan kondisi yang dialami lebih dari 150 juta pria di dunia, dan prevalensinya diperkirakan terus bertambah sesuai usia. Sebanyak 50 persen pria di dunia dengan usia di atas 40 tahun diperkirakan mengalami disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi dapat disalahpersepsikan sebagai fenomena dari penuaan pada pria. Padahal, sebenarnya disfungsi ereksi merupakan satu tanda dan indikator bagi komplikasi penyakit seperti diabetes, gangguan kolesterol, darang tinggi dan kegemukan.(Kompas,Selasa, 16 Desember 2008)

11 Cara Cegah Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi (ED) adalah gangguan umum yang terjadi di kalangan pria usia lanjut. Tapi, gangguan ini sebenarnya bukanlah bagian dari proses penuaan yang normal. Lalu, bagaimana Anda dapat menghindarinya? Berikut adalah 11 tip untuk mencegah terjadinya DE:

1. Perhatikan apa yang Anda makan
Diet yang buruk mengakibatkan penurunan kemampuan pria untuk ereksi. Penelitian menunjukkan, pola makan yang buruk dapat menyebabkan serangan jantung dengan cara menghambat aliran darah pada pembuluh arteri.  Minimnya asupan buah dan sayuran serta kegemaran menyantap makanan berlemak dan makanan olahan dapat menghambat aliran darah menuju penis.

"Segala sesuatu yang tidak baik untuk jantung seorang pria juga buruk bagi penisnya," kata Andrew McCullough, MD, Profesor Urologi Klinis dan Direktur Program Kesehatan Seksual Laki-laki di New York University Medical Center Langone.

Penelitian terbaru menunjukkan, ED relatif jarang terjadi pada mereka yang melakukan diet Mediterania yang mengutamakan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan makanan sahabat jantung seperti kacang-kacangan, minyak zaitun, ikan, dan anggur.

"Hubungan antara diet Mediterania dan fungsi seksual sudah dibuktikan secara ilmiah," kata Irwin Goldstein, MD, direktur pengobatan seksual di Alvarado Hospital di San Diego.

2. Menjaga bobot ideal
Kelebihan berat badan membawa banyak masalah kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, yang dapat menyebabkan kerusakan saraf di seluruh tubuh yang mempengaruhi penis.

3. Hindari kenaikan tensi dan kolesterol
Kolesterol tinggi atau tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh yang mengalirkan darah ke penis. Akhirnya, ini dapat menyebabkan DE.

Pastikan  Anda mengecek koresterol  dan tekanan darah secara rutin atau Anda dapat membeli monitor tekanan darah juga dijual untuk digunakan di rumah. Namun hati-hati, obat penurun tekanan darah dapat membuat sulit ereksi. Namun, dokter mengatakan banyak kasus ED yang berhubungan dengan obat sebenarnya disebabkan kerusakan arteri akibat hipertensi.

4. Minum alkohol secukupnya atau tidak sama sekali.
"Tidak ada bukti yang menyebutkan konsumsi alkohol secukupnya berakibat buruk bagi fungsi ereksi, "kata Sharlip Tapi mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar dapat menyebabkan kerusakan hati, kerusakan saraf, dan kondisi yang dapat menyebabkan DE.

5. Olahraga teratur.
Penelitian membuktikan, gaya hidup sehat dapat mencegah disfungsi ereksi. Olahraga seperti: lari, berenang, dan bentuk-bentuk latihan aerobik dapat membantu mencegah ED.

Namun, hati-hati terhadap olahraga yang memberikan tekanan berlebihan pada perineum, yang merupakan daerah antara skrotum dan anus. Goldstein berkata, "Bersepeda dapat menyebabkan DE."

Bersepeda jarak dekat mungkin tidak masalah. Tetapi orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersepeda harus memastikan sepeda yang mereka gunakan tepat, memakai celana bersepeda yang empuk, dan sering berdiri saat mengayuh.

6. Jangan mengandalkan Kegel
Salah satu bentuk latihan yang tampaknya tidak bermanfaat adalah latihan kegel, yang menyebabkan kontraksi dan relaksasi otot-otot di panggul berulang kali. Latihan Kegel dapat membantu pria dan wanita penderita inkontinensia (tidak dapat menahan berkemih). Tapi tidak ada bukti bahwa mereka mencegah disfungsi ereksi.

7. Pertahankan kadar testosteron
Bahkan pada pria sehat, kadar testosteron seringkali menurun tajam pada usia 50 tahun. Setiap tahun setelah usia 40 tahun, kadar testosteron pria biasanya jatuh sekitar 1,3%.

Wapadalah pada gejala seperti dorongan seks rendah, kemurungan, kurang stamina, atau kesulitan membuat keputusan karena bisa jadi anda kekurangan testosteron.

8. Hindari anabolic steroid.
Obat-obatan, yang sering disalahgunakan oleh atlet dan binaragawan, dapat mengecilkan testis dan menurunkan kemampuan memproduksi testosteron.

9. Stop merokok
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan membatasi aliran darah ke penis. Nikotin akan memicu menyempitkan pembuluh darah, yang dapat menghambat aliran darah ke penis.

10. Hindari seks berisiko
Beberapa kasus disfungsi ereksi berasal dari cedera penis yang terjadi selama aktivitas seks. Untuk mencegah cedera penis, lakukan penetrasi setelah yakin vagina terlumasi dengan baik. Pastikan penis Anda tidak terpeleset keluar vagina sehingga Anda tidak akan menabrak bagian tubuh yang keras. Jika pasangan Anda bergerak sedemikian rupa sehingga menyakiti penis Anda, jangan membungkuk, tapi segera minta pasangan menghentikan aksinya. Jika pasangan sedang melakukan posisi "woman on top" dan bergerak ke bawah, sementara penis tidak masuk vagina, kelebihan beban akan "menyakiti" penis."

11. Kendalikan stres.
Stres akibat faktor psikologis dapat meningkatkan kadar hormon adrenalin, yang membuat pembuluh darah berkontraksi. Itu bisa menjadi kabar buruk bagi ereksi. Apapun yang dapat dilakukan pria untuk meredakan stresnya dan merasa  hubungan emosional berjalan baik, maka hal itu dapat membantu kehidupan seksualnya.(Kompas,Senin, 5/7/2010)

Anda Disfungsi Ereksi?

DISFUNGSI EREKSI (DE) menurut Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., pakar andrologi dan seksologi dari Universitas Udayana, Bali, adalah ketidakmampuan mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual dengan baik. Bisa saja seseorang mampu ereksi, tetapi ketika melakukan penetrasi, ereksinya hilang.

Ketidakmampuan tersebut bersifat menetap, paling tidak dalam waktu tiga bulan. Jika gangguan ereksi hanya terjadi satu atau dua kali, apalagi tidak dalam rentang waktu yang panjang, gangguan tersebut tidak termasuk disfungsi ereksi.

Di seluruh dunia, kata Dr John Dean, Sekretaris Jenderal Masyarakat Kesehatan Seksual Eropa, 16 persen laki-laki berusia 20-75 tahun mengalami gangguan ereksi. Itu berarti sekitar 152 juta laki-laki mengalami gangguan ereksi. “Diprediksi prevalensi itu meningkat menjadi 322 juta orang di tahun 2025,” ujar Dean.

Ada cara sederhana untuk memastikan apakah seseorang mengalami DE, yaitu dengan menjawab lima pertanyaan berikut ini, yang sebetulnya merupakan petikan dari 15 pertanyaan dalam International Index of Erectile Function (IIEF).

Bila Anda ingin mengetahui apakah fungsi ereksi Anda atau pasangan Anda normal atau tidak, jawablah kuesioner di bawah ini. Pilih salah satu jawaban dan tuliskan angkanya di dalam kurung.

Selama tiga bulan terakhir:

1. Seberapa sering Anda mencapai ereksi selama melakukan aktivitas seksual?
[    ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[    ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[    ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[    ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[    ] 5. Hampir selalu atau selalu

2.  Ketika Anda mengalami ereksi setelah menerima rangsangan seksual, seberapa sering penis Anda cukup keras untuk dapat masuk ke dalam vagina pasangan Anda?
[    ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[    ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[    ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[    ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[    ] 5. Hampir selalu atau selalu

3.  Ketika Anda melakukan hubungan seksual, seberapa sering penis Anda dapat masuk ke dalam vagina pasangan?

[    ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[    ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[    ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[    ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[    ]  5. Hampir selalu atau selalu

4.  Selama melakukan hubungan seksual, seberapa sering Anda dapat mempertahankan ereksi setelah penis masuk ke dalam vagina pasangan?
[    ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[    ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[    ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[    ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[    ] 5. Hampir selalu atau selalu

5.  Selama melakukan hubungan seksual, seberapa sulit Anda mempertahankan ereksi untuk menyelesaikan hubungan seksual?
[    ] 1. Sangat sulit sekali
[    ] 2. Sangat sulit
[    ] 3. Sulit
[    ] 4. Agak sulit
[    ] 5. Tidak sulit

Nilai yang didapat kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai intensitas disfungsi ereksi (Erectile Dysfunction Intensity Scala). Berdasarkan jumlah nilai, didapat klasifikasi berat ringannya disfungsi ereksi (DE) sebagai berikut:

Nilai 5-10   =  DE berat
Nilai 11-15 =  DE sedang
Nilai 16-20 =  DE ringan
Nilai 21-25 =  berarti fungsi ereksi normal.

Kalau Anda mendapatkan nilai fungsi ereksi tidak normal, tak perlu buang waktu untuk cemas atau panik. Namun, jangan pula membiarkannya begitu saja sampai berlarut-larut karena akan mendatangkan masalah yang semakin berat bagi keharmonisan hubungan suami istri.

Jangan pula kemudian berupaya dengan cara yang tidak benar, dengan mencari pertolongan kepada orang atau lembaga yang tidak ahli di bidangnya. Sebaiknya Anda segera menghubungi dokter ahli seksologi dan andrologi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.(Kompas,Rabu, 25/6/2008 )